Ijen’s Blue Fire

Pada perjalananku ke Gunung Bromo tempo hari, rasanya kurang sip kalau tidak sekalian mengunjungi Kawah Ijen alias Ijen Crater, daerah wisata lain yang juga sangat terkenal di Jawa Timur. Nama Kawah Ijen terutama makin terkenal dikarenakan ia disebut sebagai satu-satunya tempat di dunia yang memiliki api biru (blue fire) selain di Islandia alias Iceland. Tentu saja apabila kalian jeli mempelajari ini di internet maka kalian akan menemukan kalau fakta tersebut tidak benar sebab tidak ada tempat di Islandia yang memiliki api biru tersebut. Bahkan apabila ditilik dan dipelajari lebih jelas, fenomena api biru dengan volume sebesar Kawah Ijen secara natural hanya terjadi di sana saja!

Perjalanan kami dari Gunung Bromo sebenarnya tidak langsung ke Kawah Ijen melainkan pergi ke Taman Nasional Baluran terlebih dahulu. Sayangnya karena waktu persiapan yang kurang matang kami sampai di Taman Nasional Baluran terlalu terlambat dan tidak diperkenankan masuk ke dalamnya (boo!!!) . Kesalahan fatal kami adalah menyewa pengemudi yang kurang berpengalaman sehingga ia tersesat beberapa kali, membuat kami salah jalur dan harus memutar sehingga sampai di tempat tujuan terlalu terlambat. Dengan hati masgyul kami pun melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen. Hati sempat dag-dig-dug dikarenakan ada pemberitaan bahwa Kawah Ijen sewaktu-waktu dapat ditutup apabila gas berbahaya disemburkan. Konon beberapa hari sebelum kedatangan kami jalur pendakian sempat ditutup. Untunglah ketika kami sudah check in di hotel, kami mendapat konfirmasi bahwa jalur pendakian Ijen pada hari itu dibuka pada pukul 2 pagi. Waktu kami untuk naik ke puncak gunung Ijen lantas turun ke kawah adalah 2.5 jam karena begitu matahari terbit maka api biru khas Ijen tak akan lagi tampak.

In the dark

Jalur pendakian Ijen sebenarnya tidak seberapa sulit. Bahkan bagi mereka yang kewalahan pun disediakan jasa ‘taksi’ yakni orang-orang penambang yang sigap mendorong dan mengangkat wisatawan naik ke puncak Ijen. Hitung-hitung untuk menghemat energi karena bagian tersulit dalam pendakian ini adalah turun di kawah Ijen. Saya tidak bercanda, menuruni kawah Ijen adalah salah satu hal yang sangat menantang sekaligus berbahaya sebab kalian akan melakukannya di tengah kegelapan malam dengan hanya bantuan senter. Saya sangat menyarankan kalian memakai headlamp sehingga satu tangan kalian bisa memegang tongkat hiking sementara satu lagi bebas mencengkeram bebatuan apabila kalian terperosok atau tergelincir. Saya sudah pernah mendaki beberapa gunung dan saya percaya bahwa Kawah Ijen adalah salah satu gunung tersulit yang saya taklukkan. Waktuku sampai ke dasar mendekati 3 jam, tepat sebelum sunrise, walaupun kami tidak dapat melihat api biru secara optimal (karena langit sudah mulai terang).

Pun begitu Kawah Ijen menawarkan banyak selain ‘sekedar’ api birunya semata. Lansekap kawah yang berbau belerang dan sibuk dilewati para penambang yang lalu lalang bekerja adalah keunikan tersendiri yang tidak bisa ditemukan di manapun. Juga ketika kabut terkadang naik dan tak menutupi danau kawah orang berbondong-bondong (termasuk saya tentunya) lari ke pinggir danau, berpose, dan berusaha mendapatkan jepretan terbaik. Sungguh sesuatu yang memorable sekali. Ada beberapa titik di tempat ini yang merupakan spot foto yang sangat bagus, di tebing kawah sampai di tepi danau.

Salah satu spot foto

Salah satu hal yang sedikit miris diceritakan oleh guideku yang juga berprofesi sampingan sebagai penambang di tempat ini. Sebelum saya bercerita lebih lanjut saya ingin menyebutkan mengenai seberapa jauh saya berjalan naik turun Gunung Ijen. Siap?

Untuk naik ke puncak gunung Ijen jaraknya sekitar 2.5 km, berarti bila naik turun total jaraknya adalah 5 km. Ditambah untuk turun ke kawah dan naik lagi dari kawah perlu tambahan 2 km. Total jaraknya adalah 7 km. Sekarang para penambang masih secara manual mengambil belerang dan memanggulnya. Ya, memanggulnya dengan badan mereka sendiri naik ke atas mulut kawah lantas dengan gerobak mendorongnya ke bawah. Upah mereka untuk melakukan hal tersebut? Menurut guideku adalah 1000 rupiah per kg.

Miris.

Ini berat. Sungguh.

Setiap hari rata-rata seorang penambang bisa melakukan tiga kali perjalanan bolak-balik (empat kali bila mereka memaksakan) dan setiap satu kali angkatan mengangkat sekitar 80 kg. Berarti setiap angkatan mereka diharga 80 ribu rupiah dan 240 – 320 ribu rupiah setiap harinya. Walaupun jauh lebih besar daripada UMR rata-rata di Indonesia (sekitar 2.5 juta per bulan), pekerjaan ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya dan menantang nyawa, sekali jatuh saja orang benar-benar bisa cedera parah kalau tidak malah meninggal dunia. Tak heran banyak orang barat sampai tercengang melihat kegigihan para penambang mencari uang. Apa boleh dikata, karena pendidikan yang kurang, akhirnya hanya tenaga dan badan saja yang bisa mereka curahkan untuk mencari uang. Barangkali mereka pikir toh sama saja apabila mereka bekerja di sektor konstruksi, sama berbahayanya dan di bawah terik matahari serta gaji jauh lebih sedikit.

Pada akhirnya perjalananku di Jawa Timur berakhir dengan senang. Ada sedikit kekecewaan mengingat kami pada akhirnya memang tidak bisa melihat Baluran yang disebut-sebut sabagai savana-nya Indonesia tetapi di sisi lain juga puas karena dua kawasan paling ikonik di Jawa Timur: Gunung Bromo dan Kawah Ijen telah sukses kami datangi. On to the next trip!

Forward
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s