The Highest Point in Thailand

Salah satu tempat yang benar-benar ingin saya datangi di Chiang Mai adalah Doi Inthanon. Saya yakin nama tersebut asing di telinga kebanyakan turis Indonesia, bukankah begitu?

Sering kalau kita bicara mengenai keindahan alam Thailand, orang Indonesia kerap memikirkan pantai maupun lagoon cantik di Krabi, Phuket, dan Pattaya. Tidak salah sih. Keindahan pantai di Thailand bisa dibilang tidak kalah dengan keindahan pantai di Indonesia maupun Filipina. Akan tetapi gara-gara selalu fokus di pantai (dan atraksi kehidupan malam di Thailand) orang cenderung lupa bahwa daerah utara Thailand memiliki pesona lain: pesona pegunungan.

Doi Inthanon adalah gunung tertinggi yang ada di Thailand dan dengan mudah bisa dicapai dari kota Chiang Mai (sekitar 90 menit saja). Saya dengan teman saya memakai jasa tur privat dari Lin Tour Thailand untuk mendaki Doi Inthanon. Bagaimana kesan saya akan tempat tersebut?

Di pagi-pagi buta kami sudah dijemput oleh Lin di hotel kami untuk diajak menuju ke sunrise point di Doi Inthanon. Oleh karena kesalahan teknis dalam pembookingan tur, kami jadi terlambat sekitar 30 menit dalam waktu penjemputan. Sedikit deg-degan juga takut ketinggalan waktu matahari terbit. Untung dan buntung: untungnya adalah supir tur kami mampu berkendara dengan super cepat dan sampai tepat waktu sebelum matahari terbit; buntungnya terbit sang matahari tak sepenuhnya cantik karena sedikit tertutupi oleh awan mendung yang menggelayut di hari itu. Kami menghabiskan waktu beberapa menit di sana untuk melihat keindahan matahari (sambil menggigil kedinginan karena cuaca di Doi Inthanon pada pagi hari mendekati 5 – 6 derajat saja) lantas beranjak pergi ke spot berikutnya.

20180514_055913
Cold, but worth the view!

Ini merupakan titik tertinggi di seluruh Thailand sekaligus merupakan tempat peristirahatan dari Raja terakhir kerajaan Lanna. Ya, dulu Chiang Mai terletak di kerajaan Lanna, satu dari dua kerajaan besar yang membentuk negara Thailand modern saat ini. Dulu Thailand selatan disebut kerajaan Siam (Ayutthaya) dan Thailand utara adalah kerajaan Lanna. Setelah Lanna sempat dikuasai oleh kerajaan Birma (sekarang adalah negara Myanmar) selama beberapa dekade, Siam membantu kerajaan tetangga itu untuk memukul mundur Birma. Supaya kekuatan dua kerajaan ini bertambah kokoh, sang Raja Rama V menikahi Putri kerajaan Lanna: Dara Rasmi dan semenjak itu bersatulah kedua kerajaan. Supaya orang-orang dari kerajaan Lanna tidak kecewa dianggap masuk kerajaan Siam, diubahlah nama negara menjadi Thailand – sesuatu yang inklusif dan bisa dimiliki oleh kedua kerajaan.

20180514_063243
Top of the Thailand

Menjelang akhir hayatnya sang ayah Dara Rasmi yang adalah Raja terakhir Lanna: Inthawichayanon, meminta ia dikebumikan di gunung tertinggi kerajaan kelahirannya: Doi Luang. Setelah ia meninggal dunia nama Doi Luang diubah menjadi Doi Inthanon (panggilan pendek untuk Raja Inthawichayanon) untuk menghormati dirinya.

20180514_063728
Where the name Doi Inthanon came from…

Kami juga melihat-lihat Angka Trail sejenak, sebuah trail pendek yang hanya berdurasi 20 – 25 menit. Enaknya, karena kami berangkat di pagi hari maka tidak ada seorangpun yang kami jumpai di jalur perjalanan kami. Sepi dan hening dengan hanya ditemani bunyi burung dan serangga di sekitar kami, rasanya sungguh seperti dibawa ke alam lain. Pun saya salut dengan kebersihan jalur trekking di Thailand. Tak ada sampah apapun yang dibuang di hutan maupun di jalan. Semua orang baik penduduk lokal maupun tamu asing sepertinya bekerja sama untuk menjaga kelestarian alam Doi Inthanon.

20180514_071148
Serenity

Selesai dari Angka Trail kami dibawa untuk melihat Twin Pagoda (atau Twin Chedi) dari Doi Inthanon. Kedua Pagoda ini diperintahkan pembuatannya oleh mantan Raja Thailand yang baru saja mangkat di tahun 2016 kemarin: Raja Rama IX (Raja Bhumibol) untuk dirinya dan sang istri: Ratu Sirikit. Pagoda yang berwarna coklat adalah untuk dirinya sebab Raja Bhumibol paling menggemari warna coklat sementara yang berwarna ungu adalah untuk Ratu Sirikit sebab itu merupakan warna favoritnya. Interior dalam kedua Chedi / Pagoda ini menampilkan perjalanan hidup Buddha mulai dari kelahirannya sampai kematiannya memasuki Nirwana.

20180514_080821
Twin Pagoda

Setelah dari Twin Pagoda itu kami akhirnya memulai trek kami di Kew Mae Pan Nature Trail. Trail ini berjarak cukup panjang (sekitar 3 KM) dan medannya naik turun. Bagi saya sendiri medan ini tidak terlalu berat dan saya berikut teman saya mampu menyelesaikannya dalam dua jam – termasuk dengan mengambil foto dan beristirahat satu dua kali sebentar. Mengingat tempat ini sangat tinggi di atas gunung kalian bisa melihat banyak kota-kota yang ada di sekeliling Doi Inthanon juga Twin Pagoda dari kejauhan. Kalau kalian beruntung kalian bahkan bisa melihat beberapa satwa langka seperti kambing gunung yang makan di tempat ini. Sedikit perhatian bagi kalian yang kurang fit, bersantai dan tak perlu terburu-buru dalam perjalanan kalian. Dengan banyak beristirahat jalur pendakian ini bisa diselesaikan dalam 3 jam dan kalian tetap masih memiliki cukup banyak waktu untuk melihat tempat-tempat lain di sekitar Doi Inthanon.

Usai makan siang kami akhirnya dibawa ke dua highlight terakhir dalam acara hari ini: Air Terjun Wachiratnan dan Air Terjun Mae Ya.

20180514_120803
Wachiratnan Waterfall

Walaupun Air Terjun Wachiratnan merupakan Air Terjun yang lebih pendek (tinggi 80 meter) dibandingkan Air Terjun Mae Ya (tinggi 250 meter) adalah Air Terjun Wachiratnan yang di dalam buku rekor tercetak sebagai Air Terjun tertinggi di Doi Inthanon. Kenapa demikian? Coba lihat baik-baik gambar Air Terjun Wachiratnan dan Air Terjun Mae Ya… Nah, sudah tahu alasannya?

20180514_145019.jpg
Mae Ya Waterfall

Kalau tebakan kalian adalah: Air Terjun Mae Ya memiliki lebih banyak tingkatan dibandingkan Air Terjun Wachiratnan maka jawaban tersebut tepat. Wachiratnan dianggap lebih tinggi karena tumpahan air dianggap langsung jatuh dari puncak ke bawah dan tidak melalui tingkatan demi tingkatan seperti Mae Ya. Sebenarnya kedua Air Terjun ini bukanlah Air Terjun terbesar di Thailand tetapi tetap saja memuaskan mata kami melihat kecantikannya, apalagi Lin sang tour guide kami selalu siap sedia dengan segala keperluan kami termasuk air minum dingin (setelah kelelahan trekking) dan kopi panas (sebagai pelawan hawa dingin) untuk diseruput. Lin juga sigap menceritakan semua sejarah mengenai Chiang Mai dan Doi Inthanon sehingga kunjungan saya tak terasa mubazir sebab saya jadi tambah pengalaman mengenai tempat tersebut. Kami sangat merekomendasikan Lin apabila kalian memang datang ke Chiang Mai dan ingin mencoba mendaki pegunungan Doi Inthanon. Walaupun secara keseluruhan pemandangan Doi Inthanon tak dapat menandingi gunung-gunung cantik di Indonesia seperti Bromo, Kelimutu, Ijen maupun Rinjani, ada sensasi tersendiri menginjakkan kaki di puncak tertinggi negara Thailand.

Oh ya, satu fakta unik terakhir mengenai Doi Inthanon… gunung ini pada dasarnya termasuk bagian ujung dari Himalayan Range yang membentang dari pegunungan Everest sana. Dengan kata lain karena saya sudah mendaki Doi Inthanon, secara teknis saya sudah boleh dianggap mendaki pegunungan Himalaya ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s