Welcome to Shire

Sebagai seorang moviegoer 2001 akan selalu menjadi tahun yang kukenang.

Ingat dengan musik legendaris ini?

Saat itu saya masih seorang remaja yang penasaran menonton film fantasi. Memang film dengan genre fantasi tengah naik daun di kala itu: semua orang tergila-gila dengan Harry Potter yang buku keempatnya baru saja menjadi bestseller di seluruh dunia. Yang tidak disadari kebanyakan orang di saat itu (di luar penggemar literatur) adalah ada proyek ambisius lain memfilmkan karya J.R.R. Tolkien: The Lord of the Rings. Buktinya terlihat pada perolehan box office Amerika di saat itu. Harry Potter and the Sorcerer’s Stone di bulan November mencetak Opening Weekend 90 Juta USD lebih – tertinggi sepanjang masa pada saat itu. Sebulan berikutnya The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring mendapat angka yang lebih ‘kecil’ dengan sekitar 75 Juta USD saja – pun begitu mata orang awam terbuka akan film ini (termasuk saya), terbukti dengan momentum yang semakin bergulir kencang memasuki film kedua dan ketiganya.

20170216_125704-01
Mau nyolong apa nak?

Sisanya adalah sejarah. Tanpa memandang rendah franchise Harry Potter saya percaya hampir semua moviegoers merasa bahwa trilogi The Lord of the Rings adalah karya yang lebih superior – menyabet jauh lebih banyak Piala Oscar – termasuk entri pamungkas yang menyabet 11 Piala Oscar, rekor yang hanya bisa disamai oleh Ben Hur dan Titanic.

Peter Jackson, sutradara dari trilogi tersebut adalah seorang berkebangsaan Selandia Baru. Sadar akan potensi cantik alam Selandia Baru, Peter Jackson memutuskan untuk menggunakan negaranya sebagai basis mayoritas lokasi syuting trilogi ini (dan juga trilogi The Hobbit yang ia ciptakan sedekade kemudian). Nah, dari begitu banyak lokasi di film trilogi ini, satu tempat yang meninggalkan banyak kenangan manis bagi penonton adalah Shire, tempat tinggal para Hobbit. Saya rasa jelas kenapa. Sebelum melangkah dalam petualangan panjang mereka, Shire merupakan tempat yang damai dan teduh bagi Bilbo, Frodo, Sam, Merry dan Pippin yang tidak pernah peduli banyak dengan pergolakan di dunia luar. Dan berbeda dengan Rivendell-nya Elf yang tampak megah tetapi dingin, Shire adalah tempat yang hangat seperti rumah. Mengundang setiap penonton untuk langsung merasa aman di dalamnya.

Tiba di Pulau Utara Selandia Baru, saya percaya tempat lokasi syuting Shire adalah tempat yang wajib dikunjungi semua orang – tak hanya moviegoers semata. Kenapa?

Lokasi syuting Shire sebenarnya terletak di sebuah kota kecil bernama Matamata. Walaupun kalian bisa menjangkaunya dari Auckland, saya lebih menyarankan kalian untuk singgah sehari sebelumnya di kota Rotorua dan bermalam di sana sebelum kemudian lanjut pergi ke Matamata. Alasan lain untuk singgah di Rotorua adalah karena kota ini merupakan tempat perhentian yang pas pergi ke beberapa tempat terkenal selain Hobbiton Movie Set: Waitomo Glow Worm Caves dan Agrodome. Kembali pada Hobbiton Movie Set / Shire, tempat ini sebelumnya dimiliki oleh keluarga New Zealand bernama Alexander. Konon ketika scout lokasi syuting datang ke ladang milik keluarga Alexander, sang kakek menolak untuk memberikan ijin syuting di sana karena ia tak pernah mendengar apa itu buku Lord of the Rings. Baru ketika anaknya mendengar proposisi tersebut ia terkejut dan langsung meralat keputusan sang ayah – memberikan ijin kepada Peter Jackson untuk membangun set rumah Hobbit di tanah mereka.

DSCF0901
Pemandangan sekitar Hobbiton, ingat pohon Party Tree?

Fakta unik lain mengenai tempat ini adalah kalau kalian mendatanginya sekarang set ini sebenarnya sudah berbeda dengan yang dulu digunakan pada saat syuting trilogi pertama The Lord of the Rings. Kenapa? Karena set yang dibangun dalam lokasi syuting trilogi tersebut tidak permanen sehingga setelah rampung syuting The Lord of the Rings: The Return of the King perlahan demi perlahan waktu menggerus set tersebut hingga lapuk dan rusak. Baru ketika trilogi The Hobbit akan disyuting dibangun ulang lagilah sebuah set replika – kali ini permanen – di tempat tersebut, dan itulah yang kini menjadi populer dikunjungi oleh turis-turis mancanegara.

DSCF0946
A more permanent home

Hobbiton, Shire, Bag End… lokasi-lokasi bersejarah dari trilogi Lord of the Rings maupun The Hobbit bisa kalian kunjungi semuanya di tempat ini. Tentu saja lokasi syuting otentik di Matamata ini kualitas tempat dan bangunannya sangat berbeda dengan Hobbiton-Hobbiton palsu yang bermunculan di Indonesia… seperti yang di Lembang sana contohnya. Pun begitu kesan saya pribadi akan tempat ini sebenarnya sedikit kecewa karena cuaca tidak mendukung ketika saya datang ke sana. Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar Shire dari film The Lord of the Rings? Tentunya tempat yang selalu cerah dan tidak pernah turun hujan bukan? Oleh karena harapan dan ekspektasi yang cukup berlebihan itulah saya harus menghela nafas melihat jalanan yang agak becek lumpur dikarenakan hujan deras yang baru saja reda ketika saya tiba.

DSCF0967
What a cozy place to warm your body

Juga karena ini merupakan guided tour (karena tidak boleh ada barang yang diambil dari set ini), ada kalanya saya merasa belum puas berfoto-foto dan sudah terpaksa beranjak pergi mengikuti sang guide karena grup di belakang sudah menunggu melihat spot tersebut dan mengambil foto di sana. Tempat terakhir yang menjadi penutup dalam tour di set ini adalah The Green Dragon Inn di mana kamu akhirnya bisa sedikit bebas memesan minuman khas dunia Lord of the Rings (jangan khawatir, bagi kalian yang bukan peminum alkohol ada opsi non-alkohol). Akan tetapi setelah dingin yang menggigit sepanjang perjalanan melihat-lihat rumah Hobbit di luar, saya sama sekali tidak keberatan duduk di samping perapian sambil menyesap Ale menghangatkan badan! Sekali lagi karena jumlah pengunjung yang membludak setiap harinya, waktu kalian di dalam The Green Dragon Inn pun terbatas. Setelah 20 – 30 menit di Green Dragon Inn kalian akan diminta keluar kembali ke bus masing-masing yang membawa kalian pulang ke Visitor Center… diiringi dengan ucapan selamat tinggal dari video yang direkam khusus oleh Peter Jackson sendiri.

20170216_133620-01
Selamat minum!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s